lupa

Lupa merupakan salah satu sifat dasar manusia. Lupa adalah lawan kata dari ingat. Seringkali kita mendengar pernyataan bahwa “Manusia itu memang tempatnya salah dan lupa”. Memang, meskipun manusia sejatinya adalah makhluk yang lebih sempurna dari makhluk-makhluk yang lain, tetapi lupa sudah merupakan sifat dasar manusia. Hal ini menunjukkan bahwa betapa lemahnya kita di hadapan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari lupa adalah hal yang wajar, karena sumber perhatian begitu sangat banyak. Hal ini tidak ada kaitannya dengan kondisi kesehatan saraf. Tetapi, ketika semua faktor pemecah atensi itu sudah dikesampingkan dan seseorang masih lupa juga, bahkan lupanya bersifat kronis, dr. Muhammad Radhian Arief, Sp.BS, spesialis bedah saraf dari RSCM, Jakarta, berpendapat bahwa ada sesuatu yang salah pada saraf otak kita.

Ada kata bijak yang mengatakan bahwa “Lupa adalah fitrah manusia, dan mereka yang hebat adalah yang mampu memanajemen diri agar tidak menjadi lupa”. Kata bijak tersebut dapat kita jadikan sebagai inspirasi untuk melawan lupa. Bukan berarti kita tidak boleh lupa, tetapi bagaimana kita mencoba untuk meminimalisir agar lupa tidak terjadi terlalu sering kepada kita.

Konon, pikiran kita akan bekerja berdasarkan “ingat” dan “lupa”. Pikiran kita tidak bisa bekerja untuk lupa dan untuk ingat dalam satu waktu. Lupa dan ingat akan dilakukan secara bergantian dalam tingkat kecepatan yang sangat maha super. Salah satu contoh, ketika kita mengingat kebaikan seseorang, saat itu juga kita melupakan kejelekannya. Begitu juga sebaliknya, ketika kita mengingat kejelekannya, maka saat itu juga kita melupakan kebaikannya.

Teori Neouroscience-nya mengatakan bahwa otak manusia ini berubah sesuai dengan penggunaan. Kemana kita mengarahkan konsentrasi akan diikuti dengan perubahan struktur fisik otak itu (Neuroscience, Funderstanding, 1998-2001)

Sifat dasar manusia ini juga yang menginspirasi kami untuk membuat gerakan “melawan lupa” dengan mendirikan megaportal “Tukang Ingetin” yang bisa disingkat dengan kata “TUING”. Tujuannya untuk aksi sosial, saling berbagi dan saling memberikan manfaat berupa sharing dari hal-hal yang terkecil sampai hal yang besar dengan saling mengingatkan. Aksi ini juga diharapkan sebagai wujud rasa kepedulian kita dan rasa sayang kita antar sesama manusia. Juga sebagai nilai ibadah horisontal antar sesama manusia.

Dan mulai detik ini mari kita melawan lupa, dengan saling mengingatkan dan saling memberi manfaat untuk sesama. (Berbagai Sumber – NFS)